Skip to main content

Pada Malam yang Basah

Disetiap bunyi Ambulan
Wiuu... wiuu... wiuu...
Aku
Seolah bisa menangkap renyah tawamu
Yang hi... hi... hi... hi...
Lalu
Kamu datang
Menjelma bulu romaku yang tegak berdiri
Dan
Pada malam yang basah
Kamu mendesah
Ah... ah... ah...
Di dalam kepalaku
Lalu  aku mau marah
Tapi kamu sudah terlanjur berubah
Menjadi arwah.
Jakarta, Maret 2018

Comments

Popular posts from this blog

Tuhan Tidak Makan Cilok

Pengalaman terakhirku makan cilok abang-abang pinggiran terminal, berujung pada penderitaan seminggu diare. Tapi malam ini, makan cilok tak pernah terasa se-dramatis ini. Aku menyiapkan cash senilai harga tiket  Gold Class-nya CGV di saku kemejaku, "Self reward atas kerja keras minggu ini," pikirku. Sesungguhnya itu adalah sisa budget mingguanku, untuk makan besok biarlah jadi urusan besok. 19.05, masih ada waktu sekitar setengah jam dari jadwal  "A Haunting in Venice." Film adaptasi novel Agatha Christie yang sudah kunanti sejak bulan lalu. Sembari menunggu, tentu tak ada salahnya duduk menikmati udara malam yang terasa lebih puitis  saat kamu berhasil menghibur diri sendiri. Tapi, tulisan ini bukan tentang review dari film tersebut, aku tak cukup pande untuk membuatnya. "Beli tisunya, Om?" Sepasang tangan mungil menyodorkan  1 pack tisu yang merknya tidak terkenal. Kutaksir, usianya belum lebih 7 tahun, atau sedikit lebih tua dari keponakanku yang mengge...

Pohon Jambu

Suatu hari kau pernah bilang, "Setiap pohon yang ditebang atau mati, akan bereinkarnasi menjadi satu bangunan baru." Tentu saja aku tertawa. Bagaimana tidak? Aku membayangkan, akan menjadi bangunan macam apa pohon jambu di depan rumahmu yang kau gantungi lampion-lampion kecil dan sering kau bacakan puisi itu kelak jika mati? "Pohon yang diperlakukan dengan baik, akan bereinkarnasi menjadi bangunan yang indah nantinya!" Katamu dengan begitu percaya diri. Sayangnya. Aku mulai percaya dengan kata-kata itu. Di kota ini, pohon-pohon telah bereinkarnasi menjadi gedung-gedung yang megerikan! Mereka mencakar-cakar langit! Tentu saja mereka iri karena tidak bisa lebih tinggi daripada lagit. Atau mungkin, gedung-gedung itu iri karena langit berhiaskan bintang, bulan dan kadang pelangi. Sedangkan gedung-gedung itu hanya berisikan jiwa-jiwa yang merasa kaya padahal satu-satunya yang mereka perjuangkan dan mereka miliki tidak lain hanyalah uang! H...

Tentang Tahu Bulat

Tentang Tahu Bulat Tak ada yang sempurna Bahkan bulatnya Tahu Bulat  Entah digoreng di mobil, bajaj, bahkan helikopter sekalipun Tak sebutir pun Tahu yang tahu kapan ia akan menjumpai penggorengan Karna semuanya terjadi begitu mendadak: tanpa persiapan Selalu ada proses Yang semula panas Kemudian hangat Lalu dingin Segalanya terjadi begitu cepat Dan bayangkan saat kamu benar-benar tak lagi bisa menikmatinya Enyoi memang, Hal yang begitu mengesankan terkadang tak terlihat oleh mata: Tahu yang kempes tak akan pernah mengutuk tusuk lidi yang tak pernah tahu betapa rapuhnya isi Tahu Bulat Jakarta, Maret 2017