Skip to main content

Teman Kecil

Sudah lama aku menyukaimu
bahkan sejak kamu belum bisa membedakan mana sepatu kanan
dan mana sepatu kiri
mana tangan untuk makan dan mana tangan untuk cebok

Saat itu aku menyukaimu dengan sederhana.
Bukan,
bukan dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya tiada.
Tentu aku belum mengenal istilah itu saat pertama aku menyukaimu.

Saat itu aku menyukaimu dengan sederhana:
dengan rasa bahagia yang muncul saat kita bermain di bawah rerintik hujan,
dengan gelak tawamu yang renyah saat kamu mendapati aku yang tak sengaja menginjak kotoran kerbau,
dengan rekah senyum di bibirmu saat kamu bercerita tentang Negeri para Bidadari di ujung pelangi.

Kemudian dunia berubah
saat yang lain menyebutku "Sudah Dewasa"
Menjadikanku sulit untuk menemukan cara sederhana untuk berbahagia

Dan kamu tetap menjadi anak-anak
yang bersembunyi di dalam diriku.

Aku mulai mengabaikanmu
dan lebih memilih berteman baik dengan realita yang begitu kamu benci:
Rutinitas.

Jakarta, maret 2017

Comments

Popular posts from this blog

Tuhan Tidak Makan Cilok

Pengalaman terakhirku makan cilok abang-abang pinggiran terminal, berujung pada penderitaan seminggu diare. Tapi malam ini, makan cilok tak pernah terasa se-dramatis ini. Aku menyiapkan cash senilai harga tiket  Gold Class-nya CGV di saku kemejaku, "Self reward atas kerja keras minggu ini," pikirku. Sesungguhnya itu adalah sisa budget mingguanku, untuk makan besok biarlah jadi urusan besok. 19.05, masih ada waktu sekitar setengah jam dari jadwal  "A Haunting in Venice." Film adaptasi novel Agatha Christie yang sudah kunanti sejak bulan lalu. Sembari menunggu, tentu tak ada salahnya duduk menikmati udara malam yang terasa lebih puitis  saat kamu berhasil menghibur diri sendiri. Tapi, tulisan ini bukan tentang review dari film tersebut, aku tak cukup pande untuk membuatnya. "Beli tisunya, Om?" Sepasang tangan mungil menyodorkan  1 pack tisu yang merknya tidak terkenal. Kutaksir, usianya belum lebih 7 tahun, atau sedikit lebih tua dari keponakanku yang mengge...

Pohon Jambu

Suatu hari kau pernah bilang, "Setiap pohon yang ditebang atau mati, akan bereinkarnasi menjadi satu bangunan baru." Tentu saja aku tertawa. Bagaimana tidak? Aku membayangkan, akan menjadi bangunan macam apa pohon jambu di depan rumahmu yang kau gantungi lampion-lampion kecil dan sering kau bacakan puisi itu kelak jika mati? "Pohon yang diperlakukan dengan baik, akan bereinkarnasi menjadi bangunan yang indah nantinya!" Katamu dengan begitu percaya diri. Sayangnya. Aku mulai percaya dengan kata-kata itu. Di kota ini, pohon-pohon telah bereinkarnasi menjadi gedung-gedung yang megerikan! Mereka mencakar-cakar langit! Tentu saja mereka iri karena tidak bisa lebih tinggi daripada lagit. Atau mungkin, gedung-gedung itu iri karena langit berhiaskan bintang, bulan dan kadang pelangi. Sedangkan gedung-gedung itu hanya berisikan jiwa-jiwa yang merasa kaya padahal satu-satunya yang mereka perjuangkan dan mereka miliki tidak lain hanyalah uang! H...

Adakah yang lebih setia daripada tanganmu sendiri?

Jawab aku! Adakah yang lebih setia daripada tanganmu sendiri? Aku setuju denganmu Ada duka yang tak terucap Sakit tak tertahan Dan kecewa yang tak kunjung pergi. Dik, Tak ada yang benar-benar peduli pada jiwamu yang merana kecuali sepasang tanganmu. Betapa sanggupnya kamu terpikir untuk memaksa kananmu menyayat kirimu atas dosa-dosa yang tak pernah dilakukannya? "Tapi, berkat kedua tanganku yang tak mampu menjangkau mimpi-mimpikulah akhirnya aku terjatuh," katamu membela diri. Tidak dik, Tidak ada yang perlu disalahkan. Ikhlaslah. Menerimanya selayak kananmu dan kirimu yang saling melengkapi. Sebab tak ada yang lebih setia daripada tanganmu sendiri. Seperti pada permulaan. Sekarang. Selalu Dan sepanjang segala masa. Medan, 2015.