Skip to main content

Begitulah kita.

Merasa saling mencinta,
mau berbagi rasa saja
tidak.

Begitulah kita.

Yang
sama-sama terperangkap
dalam
diam
dalam
beribu pertanyaan
dalam
hati.

Merasa takut kehilangan,
apa yang dimiliki
pun
tidak tahu.

Begitulah kita.

Yang
sama-sama diliputi rasa takut
akan
kesedihan
akan
kekecewaan
akan
perpisahan.

Begitulah kita.


Jakarta, Maret 2018


Comments

Popular posts from this blog

Tuhan Tidak Makan Cilok

Pengalaman terakhirku makan cilok abang-abang pinggiran terminal, berujung pada penderitaan seminggu diare. Tapi malam ini, makan cilok tak pernah terasa se-dramatis ini. Aku menyiapkan cash senilai harga tiket  Gold Class-nya CGV di saku kemejaku, "Self reward atas kerja keras minggu ini," pikirku. Sesungguhnya itu adalah sisa budget mingguanku, untuk makan besok biarlah jadi urusan besok. 19.05, masih ada waktu sekitar setengah jam dari jadwal  "A Haunting in Venice." Film adaptasi novel Agatha Christie yang sudah kunanti sejak bulan lalu. Sembari menunggu, tentu tak ada salahnya duduk menikmati udara malam yang terasa lebih puitis  saat kamu berhasil menghibur diri sendiri. Tapi, tulisan ini bukan tentang review dari film tersebut, aku tak cukup pande untuk membuatnya. "Beli tisunya, Om?" Sepasang tangan mungil menyodorkan  1 pack tisu yang merknya tidak terkenal. Kutaksir, usianya belum lebih 7 tahun, atau sedikit lebih tua dari keponakanku yang mengge...

Pohon Jambu

Suatu hari kau pernah bilang, "Setiap pohon yang ditebang atau mati, akan bereinkarnasi menjadi satu bangunan baru." Tentu saja aku tertawa. Bagaimana tidak? Aku membayangkan, akan menjadi bangunan macam apa pohon jambu di depan rumahmu yang kau gantungi lampion-lampion kecil dan sering kau bacakan puisi itu kelak jika mati? "Pohon yang diperlakukan dengan baik, akan bereinkarnasi menjadi bangunan yang indah nantinya!" Katamu dengan begitu percaya diri. Sayangnya. Aku mulai percaya dengan kata-kata itu. Di kota ini, pohon-pohon telah bereinkarnasi menjadi gedung-gedung yang megerikan! Mereka mencakar-cakar langit! Tentu saja mereka iri karena tidak bisa lebih tinggi daripada lagit. Atau mungkin, gedung-gedung itu iri karena langit berhiaskan bintang, bulan dan kadang pelangi. Sedangkan gedung-gedung itu hanya berisikan jiwa-jiwa yang merasa kaya padahal satu-satunya yang mereka perjuangkan dan mereka miliki tidak lain hanyalah uang! H...

Mendengarkan Lagu 'Tersesat'

Meski ke mana? Harus bagaimana? Semua berubah, Kecuali ingatan. Aku, Sama sepertimu Pernah ingin kembali ke masa lalu Hanya untuk bisa memulai lagi dari awal. Di mana langit? Di mana udara? Di mana dermaga ? Langit yang kupandang: Tetap sama. Tapi bumi, tak pernah berhenti berotasi. Udara yang kuhirup: Tetap sama. Tapi aroma yang menghinggapi, tak lagi kukenal. Dermaga yang kulalui: Tetap sama. Yang datang dan pergi silih berganti. Jika setiap hari adalah pencarian, Di mana petunjuk jalan menuju pulang? Di mana mereka yang seharusnya bersama? Di mana? Pikiranku terus berkeliling Ke segala arah Tapi Tetap saja tak pernah kutemukan: Sebuah jawaban. Lalu mengapa aku harus tetap mencari? Jika tersesat adalah hidup Kematian adalah mercusuar. Dan Pada akhirnya setiap orang hanya akan menjadi memori bagi orang lain. Jakarta, Maret 2018.