Skip to main content

Posts

Jouska

Akan kuceritakan kepadamu pengalamanku selama hidup menjadi  tetesan air. ㅤㅤㅤㅤㅤ Aku terlahir sebagai setetes air mata seorang bocah yang ditinggal mati ibunya. Saat itu aku enggan meninggalkan pipi bocah itu. Aku senang bisa ikut merasakan kesedihannya, karena itulah perasaan yang pertama kali kukenal, sampai-sampai aku dibuat menangis karenanya. Siapa bilang air mata tak bisa menangis? Lalu aku menguap, menjadi butiran hujan kemudian jatuh ke gelas seorang pria paruh baya yang hendak minum. Berada dalam tubuh pria itu, membuatku ikut merasakan kelelahannya. Seketika aku sudah berada  diantara lipatan kerutan keningnya, dari sini aku bisa mendengar semua keributan di dalam kepalanya . Tidak lama, aku mengalir melalui pipi, dagu, leher, dan berhenti lagi di dadanya yang keriput. Aku merasakan degup jantungnya yang begitu kencang. ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ "Pria ini begitu kelelahan," kataku dalam hati. Bagaimana tidak, seharian bekerja membanting-banting tulangnya demi istri dan seorang pu...

Adakah yang lebih setia daripada tanganmu sendiri?

Jawab aku! Adakah yang lebih setia daripada tanganmu sendiri? Aku setuju denganmu Ada duka yang tak terucap Sakit tak tertahan Dan kecewa yang tak kunjung pergi. Dik, Tak ada yang benar-benar peduli pada jiwamu yang merana kecuali sepasang tanganmu. Betapa sanggupnya kamu terpikir untuk memaksa kananmu menyayat kirimu atas dosa-dosa yang tak pernah dilakukannya? "Tapi, berkat kedua tanganku yang tak mampu menjangkau mimpi-mimpikulah akhirnya aku terjatuh," katamu membela diri. Tidak dik, Tidak ada yang perlu disalahkan. Ikhlaslah. Menerimanya selayak kananmu dan kirimu yang saling melengkapi. Sebab tak ada yang lebih setia daripada tanganmu sendiri. Seperti pada permulaan. Sekarang. Selalu Dan sepanjang segala masa. Medan, 2015.

Dark Side

Do you know how the darkness feels like? No. You Don't. I do. It's part of me. Screaming. Raging. Fights for Release. It's part of me. Whispering. Flattering. Seeks its light. Jakarta, March 2018

Menanti Kantuk

( Sepulang dari Perjalanan ke Barat di Waktu Pagi bersama Sapardi ) Malam semakin larut. Lampu kamar kostku byarpet. Jarum panjang jam dindingku menuju angka dua belas, Jarum pendek jam dindingku menuju angka satu. Aku dan jam dinding tidak pernah bertengkar tentang siapa yang menciptakan waktu. Aku dan jam dinding tidak pernah bertengkar tentang siapa yang harus terlelap lebih dahulu. Jakarta, Maret 2018.

Kerak Telor

Kepul-kepul asap Menampar pasang-pasang lubang hidung yang kembang kempis Aku cabai-cabai kering. Yang hampir putus asa Menanti-nanti dalam adonan ketan basah serta becek kuning telur bebek Gambir, September 2017

Mendengarkan Lagu 'Tersesat'

Meski ke mana? Harus bagaimana? Semua berubah, Kecuali ingatan. Aku, Sama sepertimu Pernah ingin kembali ke masa lalu Hanya untuk bisa memulai lagi dari awal. Di mana langit? Di mana udara? Di mana dermaga ? Langit yang kupandang: Tetap sama. Tapi bumi, tak pernah berhenti berotasi. Udara yang kuhirup: Tetap sama. Tapi aroma yang menghinggapi, tak lagi kukenal. Dermaga yang kulalui: Tetap sama. Yang datang dan pergi silih berganti. Jika setiap hari adalah pencarian, Di mana petunjuk jalan menuju pulang? Di mana mereka yang seharusnya bersama? Di mana? Pikiranku terus berkeliling Ke segala arah Tapi Tetap saja tak pernah kutemukan: Sebuah jawaban. Lalu mengapa aku harus tetap mencari? Jika tersesat adalah hidup Kematian adalah mercusuar. Dan Pada akhirnya setiap orang hanya akan menjadi memori bagi orang lain. Jakarta, Maret 2018.

Begitulah kita.

Merasa saling mencinta, mau berbagi rasa saja tidak. Begitulah kita. Yang sama-sama terperangkap dalam diam dalam beribu pertanyaan dalam hati. Merasa takut kehilangan, apa yang dimiliki pun tidak tahu. Begitulah kita. Yang sama-sama diliputi rasa takut akan kesedihan akan kekecewaan akan perpisahan. Begitulah kita. Jakarta, Maret 2018